Al Quran dan PFC (perfrontal Cortex)

Al Qur’an dan Pfc (prefrontal cortex)

Oleh: Perwitasari Mulyaningsih, SPsi

Sebetulanya sudah sejak lama saya merenung dan berpikir tentang metode mengajarkan Al Qur’an yang sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat sehingga hasilnya mengagumkan. Al Qur’an bukan hanya dibaca dan di hafal tetapi juga menjadi pembentuk karakter.  Generasi terdahulu yang aqidah dan akhlaqnya adalah AlQur’an.

Waktu saya masih menggeluti bidang pendidikan Islam, yang juga mengajarkan Al Qur’an. Saya memikirkan mengapa banyak anak yang tidak suka belajar AlQur’an? Mengapa anak-anam lebih suka belajar matematika, bahasa Inggris dll? Mengapa saat mereka sudah bisa membaca AlQur’an,  tidak membuat mereka suka membaca Al Qur’an.  Mengapa ketika hafalan mereka bertambah, tidak membuat sikap dan perilakunya menjadi lebih baik? Apa yang terlewat? Apa yang kurang dalam mengajarkan Al Qur’an?

Pertanyaan itu kembali menguat saat kemudian saya bekerja di lembaga konsultasi anak dan keluarga, banyak menangani anak2 yang hafal Al Qur’an berjuz-juz tapi mengalami kecanduan p*rn* bahkan ada yang kecanduan s*x.

Saya mencoba memikirkan apa yang menyebabkan masalah ini ?
AlQur’annya pastilah sudah bagus. Itu tidak usah kita ragukan lagi. Saya sangat yakin bahwa jika AlQur’an itu diajarkan pada anak tentu akan memberi kebaikan yang banyak.  Menghafal Al Quran juga bagus pastilah.

Anaknya pun tidak masalah. Karena saya percaya  anak itu sesungguhnya fitrah /suci.  Kalau kita membimbing dan mengarahkan dengan benar, sesuai dengan fitrah anak, pastilah anak akan menjadi anak yang sholeh dan sholihat. Anak siapapun juga. Insya Allah.

Baca juga :Menjadi Sahabat Al Quran

Lalu saya belajar tentang neurosains. Saya kemudian menjadi tahu bahwa ternyata bagian otak yang mengatur gerak, emosi/perasaan,  ingatan termasuk hafalan dan yang membuat anak punya kemampuan membedakan yang benar dan salah itu berbeda letaknya namun bisa saling berhubungan. Dan bagian otak depan yang disebut prefrontal cortex, yang merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan hewan. Pfc ini lah direktur otak kita, yang mengatur bagaimana manusia berperilaku, mengontrol emosi, gerak dan kemampuan menimbang benar dan salah. Jadi untuk sampai  membentuk sikap dan perilaku haruslah dengan menstimulasi pfc ini.

Mulai saya menemukan, mengapa anak tidak cukup hanya membaca dan  menghafal Al Qur’an saja?
Karena hafalan hanya sebagian dari cara kerja otak kita. Tidak cukup menstimulasi hingga membuat pfc berfungsi. Harus ditambah dengan emosi/perasaan senang, ada gerak yang dilakukan untuk mengekspresikannya dan ada tafakur yaitu kemampuan berpikir yang mencerna dan memaknai hafalan/bacaan AlQur’an sehingga memang seluruh bagian otak terstimulasi dan dapat mencapai stimulasi pfc.  Dengan demikian AlQur’an dapat terrefleksi dalam sikap dan perilaku.

Bila kita mempelajari bagaimana Rasulullah mengajarkan AlQur’an, kita bisa memahami mengapa Rasulullah tidak melakukan drilling yang memaksa semua sahabat untuk menghafal AlQur’an..

Yang dilakukan adalah memberi kesadaran bahwa Al Qur’an adalah pedoman hidup nya. Bahwa Allah memberikan AlQur’an untuk mengarahkan/memberi petunjuk bagaimana seharusnya agar selamat hidup di dunia dan di akhirat nanti.

Anak2 pasti akan suka dan penuh rasa ingin tahu bila mereka paham bahwa AlQur’an adalah petunjuk. Buktinya mereka selalu antusias membaca petunjuk jalan atau lembaran peta petunjuk lokasi dan arah di suatu tempat.
AlQur’an adalah bentuk cinta dan kasih sayang Allah pada kita manusia, agar selamat di dunia dan akhirat. Kita bisa analogkan dengan petunjuk jalan dari pihak yang ingin menjaga keselamatan kita, tentu bila kita ikuti akan membuat kita aman dan nyaman.  Kalau di taman safari, tidak mengikuti petunjuk kan bisa-bisa kita dimangsa hewan buas. Naudzubillah min dzalik.

Ketika kesadaran itu sudah muncul maka membuat rasa ingin tahu mereka juga pasti muncul. Oo jadi apa petunjuknya?
Tentu ini akan membuat kita ingin membacanya kan?
Rasulullah menumbuhkan kesadaran para sahabat untuk memahami AlQur’an.

Cuma disini beda nya yang harus kita sadari.
Ketika para sahabat memahami AlQur’an, mereka belajar dengan mendengarkan dulu dari Rasulullah. Lalu Rasulullah meminta beberapa sahabat untuk menuliskan dan menghafal agar AlQur’an bisa terjaga nash nya . Bisa dibacakan pada sahabat dan generasi lain dengan teks yang benar.  Lalu setelah itu baru para sahabat membaca dan menghafal AlQur’an sebagai upaya agar lebih memahami AlQur’an sehingga bisa mereka amalkan..
Selain itu para sahabat langsung bisa memahami Al Qur’an karena mereka mengerti bahasa Arab sebagai bahasa AlQur’an. Kalaupun ada yang tidak mereka paham, mereka akan bertanya langsung pada Rasulullah.  Tujuan membaca dan menghafal Al Qur’an adalah agar mereka bisa lebih memahami, menjiwai isi kandungan Al Qur’an agar dapat di amalkan sehari-hari.

Jangan remehkan dawah pada anak

Nah sekarang pada anak2 kita apakah tahapan ini dimana kita membacakan dan membuat mereka tahu dan paham apa yang di bacakan padanya itu, sudah kita lakukan? Apakah kita mengajarkan bahwa membaca dan menghafalkan Al Qur’an agar bisa memahami dan kemudian bisa mengamalkannya . Sesuai dengan tujuan diturunkan nya Al Qur’an sebagai petunjuk /huda.

Kita melewati tahapan ini,  tapi langsung meminta mereka membaca dan menghafal AlQur’an.  Mereka anak yang patuh..mereka tahu itu yang akan menyenangkan hati orang tua dan gurunya. Mereka maksimalkan kemampuan sehingga di usia belia mereka sudah mampu membaca dan menghafal Al Qur’an dengan baik.

Tapi kalau mereka tidak dibimbing untuk mencintai AlQur’an sebagai petunjuk hidup, tidak memahami apa yang mereka baca dan mereka hafal.  Tidak dicontohkan bagaimana berperilaku sesuai Al Qur’an. Apakah akan terbentuk karaktek Qur’an dalam diri mereka? Apakah sikap dan perilaku mereka akan sesuai dengan Al Qur’an?
Mari kita renungkan bersama.

Berharap para pakar AlQur’an dan para pakar pendidikan, para ustadz-ustadzah , para orangtua dan juga para psikolog, para ahli neurosains dapat bersama-sama  memikirkan dan merumuskan bagaimana tahapan dan metode mengajarkan AlQur’an agar bisa membentuk karakter (sikap dan perilaku) yang sesuai dengan Al Qur’an, bukan sekedar bisa membaca dan punya hafalan yang banyak.  Tentu tidak lepas dari bagaimana Rasulullah mencontohkan pengajaran Al Qur’an yang dilakukan kepada para sahabat.  Yang sudah terbukti memang bersikap dan berperilaku sesuai Al Qur’an.

Yu ikutan Sanlat Ramadhan Fun Camp

#sebuahrenungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *